Sudah ditraining kok masih minta honor!

Hampir setiap hari, di media cetak maupun TV, kita melihat perempuan dan anak yang dianiaya hingga babak belur, bahkan meninggal. Penganiayaan itu dilakukan oleh orang-orang dekat yang harusnya menjadi pelindung, seperti suami, orang tua, kakak, paman, teman dana lain-lain. Korban terus berjatuhan, sementara itu belum ada “gerakan” yang besar untuk menolong korban kekerasan apalagi mencegahnya. Pemerintah bisa saja berdalih bahwa sudah ada UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, dan juga UU Perlindungan Anak…. Tapi kenyataannya, kekerasan terus berlangsung…. Bahkan menjadi salah satu komoditi bagi media.

Di sisi lain, data kekerasan terhadap perempuan dan anak seperti gunung es, yang setiap hari kita saksikan di media itu hanyalah sebagaian kecil, lebih banyak lagi kekerasan yang tidak terlaporkan. Tersembunyi dibalik tembok rumah tangga.

Sepandai-pandainya menyembunyikan kekerasan, masih ada juga peluang untuk membongkarnya. Bagaimana? Pada saat korban datang ke klinik, rumah sakit, puskesmas atau layanan kesehatan lain. Korban kekerasan (dewasa) biasanya berusaha menyembunyikan kekerasan yang dialami karena dianggap tabu. Sedangkan anak yang mengalami kekerasan mempunyai ketergantungan yang tinggi pada orang dewasa untuk mendapatkan pertolongan medis. Nggak mungkin kan seorang anak, bisa keluar dari rumah dan ke rumah sakit / puskesmas sendirian. Dia butuh orang dewasa untuk mengantarkannya. Nah celakanya, sering kali orang dewasa yang mengantar itu adalah pelakunya sendiri (bisa orang tua, keluarga dll). Jika ini terjadi, sudah pasti pengantar akan menyembunyikan kejadian kekerasan yang dilakukan, paling-paling dikatakan, “anak ini jatuh” dll.

Lalu…. Siapa yang memegang kunci untuk membuka misteri kekerasan? Yap…. Tenaga kesehatan di lini depan!

Sudah sejak tahun 2001 aku meneliti dan mendalami tentang peran tenaga kesehatan dalam menguak kekerasan dibalik masalah-masalah kesehatan yang mereka tangani sehari. Pada waktu itu belum ada UU PKDRT maupun UU perlindungan anak. Maka tidak mengherankan jika pada waktu itu tenaga kesehatan masih belum peduli tentang kekerasan apalagi tentang masalah kesehatan yang terkait. Sekarang di tahun 2008, 4 tahun setelah UU PKDRT diresmikan, bahkan sudah ada instruksi dari kepala Dinas terkait untuk memberikan layanan pada korban kekerasan terhadap perempuan, ternyata masih banyak tenaga kesehatan dan puskesmas yang belum paham, ttg dampak kekerasan terhadap masalah kesehatan yang sehari-hari mereka temui, apalagi melakukan tindakan penanganan ataupun pencegahan.

Kebetulan, aku dikontrak oleh sebuah LSM yang mempunyai fokus ketertarikan yang sama, memikirkan bagaimana membangun gerakan utk penanganan korban kekerasan di tingkat layanan kesehatan.. Maka jadilah kita mulai melakukan assessment untuk memilih puskesmas. Dua puskesmas terpilih, keduanya sebenarnya sudah masuk dalam daftar pemerintah sebagai puskesmas yang harus memberikan layanan korban kekerasan, namun sampai saat ini belum dapat dilakukan sepenuhnya karena tenaga kesehatan belum dilatih untuk menangani isu itu.. Baiklah! Berarti memang masih dibutuhkan pelatihan yang komprehensig bagi petugas kesehatan. Jika menggugat pada Departemen terkait, pasti terlalu panjang birokrasi dan memakan waktu lama… padahal perempuan dan anak setiap hari terancam keselamatannya… tidak ada waktu untuk itu!
Maka… kita siapkan training untuk petugas kesehatan….

Seminggu sebelum Natal, training tentang “Menguak Kekerasan dibalik masalah kesehatan perempuan dan anak” dilakukan. Training ini baru training tahap pertama, selanjutnya masih akan ada training lain yang lebih teknis. Training berlangsung selama 3 hari. For Free! Semua biaya ditanggung oleh lembaga tempat ku bekerja.

Training dibuka dengan perkenalan. Selain menyebutkan nama, peserta juga diminta untuk menuliskan “apa yang terbayang jika mendengar tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak”. Maka munculah semua perasan empati (sedih, marah, kasihan dll), muncul juga jenis-jenis kekerasan yang sudah mereka ketahui, dan yang cukup mengejutkan, sesungguhnya kasus kekerasan itu banyak dialami oleh pasien mereka sehari-hari namun tenaga kesehatan belum dapat memberikan respon yang layak karena keterbatan pengetahuan dan ketrampilan…. Bagi aku dan fasilitator lain, ini adalah Sebuah titik awal yang baik untuk memulai sebuah training yang partisipatoris. Maka dari pengalaman mereka sendiri itulah, kami tim fasilitator mengolah proses training selanjutnya.
Di akhir training, sudah tersusun rencana tindak lanjut, hal-hal teknis khas birokrasi mulai bermunculan. Tapi tampaknya masih bisa diatasi… hingga akhirnya training ini ditutup dan kita sepakat untuk bertemu kembali pada training selanjutnya. Peserta pun pulang dengan menggunakan bis yang telah disediakan.

Aku masih membereskan peralatan training ketika tiba-tiba sebuah sms masuk ke HP ku, dari salah seorang peserta yang menyatakan mewakili seluruh peserta, menanyakan tentang “HONOR” karena telah mengikuti training ini.

WHUATS!!! Rasanya badan ini terlempar ke sungai deras yang mengalir di depan tempat training. Badan yang sudah mulai capek, setelah training berhari-hari, sebenernya sudah menjerit-jerit minta istirahat… akhirnya semakin lemas….

Sampai saat ini, aku masih belum paham, kenapa ada kebiasaan (di Indonesia? atau hanya dikalangan pegawai pemerintah) setiap kali mengikuti pelatihan selalu diberikan honor lah, uang duduk lah, uang transport lah…. Pada saat itu tidak diberikan, bahkan tanpa malu ditanyakan kepada pemberi training.. Aneh kan! Lho kami yang memberikan training, situ yang mendapatkan ilmu dan ketrampilan (full board free!) kok malah kami yang ditagih honor! Pikiranku jadi melayang-layang ke perempuan dan anak-anak yang setiap hari terancam kekerasan…. Ah… tampaknya masih harus lebih banyak lagi korban yang berjatuhan!