Hati-Hati Penipuan Berkedok Kecelakaan Anak di Sekolah

Beberapa bulan yang lalu saya mendapat informasi dari salah seorang teman yang tertipu jutaan rupiah karena mendapat kabar kalau anaknya kecelakaan di sekolah dan harus dioperasi SEGERA!

Teman ini mendapat telpon dari seseorang yang mengaku guru / staf di sekolah anaknya. Dia bisa menyebutkan secara lengkap nama anak, nama sekolah. Ia mengabarkan kalau anak teman saya mengalami kecelakaan di sekolah dan saat ini sudah dibawa ke RS. Cedera yang diderita anak saya digambarkan cukup parah sehingga perlu dilakukan operasi segera. Dokter bedah baru akan melakukan operasi jika teman saya sudah membelikan alat/ bahan yang dibutuhkan untuk operasi dengan harga belasan juta. Lalu teman saya diminta untuk menghubungi dokter tsb melalui nomor telp tertentu, dan bicara langsung dgn dokter yang bersangkutan. Karena situasi panik dan semua tampak meyakinkan, maka teman saya mentransfer sejumlah uang ke rekening yang diminta…

Teman saya juga berusaha untuk menelpon anaknya, tetapi HP tidak dapat dihubungi, Maka ia semakin yakin sesuatu terjadi pada anaknya.

Setelah uang ditransfer barulah pikiran kemungkinan penipuan terbersit, hingga akhirnya anak bisa dihubungi dan syukurlah ternyata anak dalam keadaan sehat sedang belajar di kelasnya.

Pertanyaannya: bagaimana si penipu bisa mendapatkan data anak (nama, alamat sekolah dan lain-lain?). Kalau data kita memang sudah sulit dijaga kerahasiaannya. Nama dan nomor telpon rumah tercantum di buku telpon. No HP kita sudah beredar kemana-kemana dan sudah sering dihujani sms yg menawarkan KTA, minta pulsa dan segala tipu muslihat.

Pengalaman saya pagi ini mungkin bisa menjawab pertanyaan itu.

Tadi pagi seseorang menelpon ke nomor telpon rumah:

Penelpon (P) : “halo apa benar ini rumah nya dokter H ?
Saya (S) : ini dari siapa?

P : dari pak Agus
S : Pak Agus siapa?

P : ini dengan istrinya dokter H ya? saya pak Agus, dari sekolah anak ibu… ee si siapa bu nama anak ibu?
S : (saya mulai tanggap, masak dari sekolah anak saya cari suami saya? Gak mungkin lah! Masak dari sekolah anak saya dia gak tahu (dgn gaya seolah-olah lupa) nama anak saya)

Dari sekolah anak saya yang mana pak?

P : saya pak Agus bu, bagian Tata Usaha dan kesiswaan sekolah anak ibu
S : Pak, saya ini Ketua Komite Sekolah di sekolah anak saya. Saya kenal semua guru dan pegawai sekolah dengan baik, dan tidak ada seorangpun yang namanya Pak Agus! Bapak ini siapa?

P : Oooh.. ini rumahnya dokter H… yang dokter spesialis kulit kan? (suaranya mulai berubah panik! tampaknya dia mulai berkelit dengan menyebut dokter H spesialis kulit. Kalau dia mendapatkan nomor rumah kami dari buku telpon, di sana jelas disebutkan nama suami saya drg. H !)
S : Bukan….

P : oohh maaf ya bu…

Pada saat sesorang menelpon mencari suami saya dan mengaku dari pihak sekolah, saya sudah langsung curiga, karena selama ini saya lah yang wira wiri ke sekolah, tidak mungkin pihak sekolah malah mencari suami saya.

Saya langsung teringat pengalaman teman yang saya ceritakan di atas tadi.

Saya rasa begitulah caranya penipu mengumpulkan informasi tentang anak kita (nama, sekolahnya dll).

Penipu itu apes, karena yang mengangkat telpon saya. Bayangkan kalau yang mengangkat telpon adalah pembantu rumah tangga saya, pasti ketika ditanya “eh siapa itu nama anaknya mbak?”,secara spontan dia akan memberikan nama anak kita dan informasi lainnya.

Informasi itulah yang nanti nya akan digunakan si penipu untuk menipu kita dengan modus operandi seperti yang dialami teman saya…

So, parents…

  1. Kenali semua guru dan staf di sekolah anak anda.
  2. Buatlah daftar nama-nama guru dan staf di sekolah anak anda dan nomor telponya, serta tempelkan di dinding di dekat pesawat telpon.
  3. Jangan cepat percaya pada orang yang tidak dikenal dan memberikan informasi
  4. Jelaskan cerita-cerita penipuan ini kepada siapa saja yang ada di rumah kita untuk selalu waspada jika menerima telpon dari orang yang tidak dikenal. Pastikan bahwa penelpon mampu menyebut nama kita dengan benar (bukan hanya “bisa bicara dengan ibu? bisa bicara dengan bapak?)
  5. Berikan peringatan kepada seisi rumah termasuk orang tua kita, dan anak kita, untuk tidak memberikan informasi apapun terhadap orang yang tidak dikenal… Jangan sampai terjebak memberikan nama, alamat dll.

Mudah-mudahan cerita ini dapat mencegah korban penipuan berikutnya!

RH