Chatting di pagi hari dengan keponakanku, Alma (Kls 2 SD)

Alma (A) : Bude kesini dong!
Ririn (R) : Lho bude kan musti kerja

A : Emang libur nya kapan?
R : Minggu ini bude gak libur

A : karena?
R : Karena hari sabtu dan minggu, bude musti ngajar

A : Lha ngajar siapa?
R : Ngajar orang-orang dewasa

A : Emang bude seorang guru?
R : Iya. Guru dan peneliti

A : [imoticon : confused] hah…. [imoticon: confused] harusnya guru ngajar anak2. Kok ngajar orang dewasa ?
R : Karena banyak orang dewasa yang tidak sepintar mbak Alma!

A : Kalo orang dewasa kan udah lebih pintar daripada anaka2
R : Tidak selalu! Kadang-kadang orang dewasa perlu belajar juga dari anak2
R : contohnya : mbak Alma kan lebih pinter menggambar daripada bude…

Itu adalah sepenggal chattingan saya dengan Alma, keponakanku (putrinya pak Nugroho dan ibu Dinan) yang masih duduk di kelas 2 SD. Pada saat chatting lewat BB ini terjadi, dia baru bangun, dan belum mandi.

Saya sengaja memberikan jawaban dengan kata-kata yang tidak biasa seperti “mengajar orang dewasa”. Benar-benar mengejutkan, ketika dia merespon dan mempertanyakan jawaban itu.
Secara tidak sadar, Alma sudah mendiskusikan hal yang paling mendasar tentang “pendidikan”. Bahwa semua orang adalah subyek pendidikan, bahwa kita perlu belajar dan mau belajar dari siapun (apakah dia guru, orang biasa, orang miskin, bahkan anak-anak)…

Pernyataan Alma bahwa “seharusnya orang dewasa lebih pintar dari anak2”, patut menjadi bahan renungan untuk kita semua yang menyatakan diri sudah dewasa!
Mudah-mudahan kata-kata Alma ini juga dibaca olah semua orang yang sedang diuji “kepintaran dan kewasaan”nya. Mudah-mudahan kata-kata Alma ini juga dibaca oleh mereka yang sedang ribut di pansus Bank Century.

Chanting dengan Alma pagi ini, benar-benar membuat hati saya bungah, ada kebanggaan sekaligus optimisme akan masa depan yang lebih baik. Tugas kita bersama untuk menjaga kemurnian, kejujuran, ke-tajam-an, dan sensitivitas anak-anak ini tetap terjaga.

Mudah-mudahan nanti Alma tidak masuk “Taman Kanak-kanak” nya Gus Dur yang terbesar di Indonesia itu!

Jakarta, 7 Januari 2010

Bude Ririn